Diberdayakan oleh Blogger.

Followers

Glider Content

Hitman

Duisorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, ...
Hitman

Gears of war

Quisque orem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ...
Gears of war

Video

FEATLIST

About Me

TABDIV

Random

Puzzle

beda

Posted by neocear On Senin, 21 November 2011 0 komentar

Karakteristik

Prokariot

Eukariot

Ukuran sel

umumnya 0,5-5 μm

10-100 μm

Inti sel

Tidak terbungkus membran inti sehingga tidak disebut nukleus tetapi nukleiod

Inti sejati yang terbungkus membran inti dan memiliki nukleolus

Organel yang terbungkus membran

Tidak ada

Ada, seperti lisosom, kompleks golgi, mitokondria, retikulum endoplasma, dan kloroplas

Flagel

Tersusun atas 2 berkas protein

Lengkap, tersusun atas mikrotubulus rangkap

Glikokaliks

Ada, berupa kapsul atau lapisan lendir

Ada pada sel yang tidak memiliki dinding sel

Dinding sel

Biasanya ada, tersusun atas peptidoglikan

Jika ada, struktur kimia sederhana

Vesikel gas

Ada

Tidak

Membran sel

Tanpa karbohidrat dan biasanya tanpa sterol

Sterol dan karbohidrat ada sebagai reseptor

Sitoplasma

Tanpa sistoskeleton atau aliran sitoplasmik

Ada sistoskeleton dan terjadi aliran sitoplasmik

Ribosom

Ukuran kecil (70s)

Ukuran besar (80s)

Kromosom (DNA)

Kromosom tunggal melingkar tanpa protein histon

Kromosom linear melipat dengan terikat protein histon

Pembelahan sel

Pembelahan biner

Mitosis

Rekombinasi seksual

Tanpa meiosis, hanya transfer fragmen DNA

Meiosis

Sensitivitas terhadap antibiotik

Sensitif

Tidak sensitif

ZOO

Posted by neocear On Rabu, 18 Mei 2011 0 komentar

PROTOZOA = hidup di tempat yang basah.

Klasifikasi :
1. Rhizopoda = alat gerak pseudopodia, asimetris, makanan dicerna secara fagositosis.
Entamoeba histolitica (menyebabkan penyakit disentri amoeba).
Entamoeba gingivalis (menyebabkan radang gusi).
Foraminifera sp. (fosil sebagai indikator minyak bumi).
Radiolaria digunakan untuk bahan penggosok).
2. Ciliata = alat gerak silia.
Balantidium coli (Parasit, menyebabkan penyakit diare).
3. Flagelata = alat gerak flagel, mastig (bulu cambuk).
Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense (menyebabkan penyakit tidur di
Afrika dengan vektor (pembawa) lalat Tsetse (Glossina sp.).
Trichomonas vaginalis (penyakit keputihan).
4. Sporozoa = tidak memiliki alat gerak.
Toxoplasma sp. Þ penyebab keguguran janin & hydrocephalus.



Siklus hidup :
Sporozoit -> Masuk Tubuh Di Dalam Hati -> Tropozoid -> Merozoit -> Eritrosit Pecah -> Gametosit -> Terhisap Nyamuk -> Zygot Ookinet -> Oosis -> Sporozoit.

Peranan :
Mengendalikan populasi Bakteri, sumber makanan ikan, indikator minyak bumi, bahan penggosok.

PORIFERA = berpori, multiseluler, habitat air laut, hidup melekat pada substrat,
bentuk seperti tabung, warna bervariasi, makanan bakteri, ukuran 2mm

Porifera memiliki 3 saluran air :
1. Ascon = Air masuk melalui pori terus ke spongosol dan keluar melalui oskulum.
Contoh : Leucosolenia.
2. Sycon = Air masuk melalui pori ke saluran radial yang berdinding koanosit lalu ke
spongosol dan keluar melalui oskulum.
Contoh : Scypha.
3. Rhagon = Air masuk melalui pori saluran radial bercabang & keluar melalui oskulum.
Contoh : Euspongia.

Reproduksinya :
1. Seksual = Pembentukan gamet (Hermaprodit).
2. Aseksual = Pembentukan tunas.

Klasifikasi dan bahan penyusun rangka :
1. Calcarea = pencernaan A-S-R -> Zat Kapur / Kalsium Karbonat.
Homocoela = Dinding tipis (A-R).
Heterocoela = Dinding tebal (S-R).
2. Hexactinellida = tipe saluran sikonoid -> Silikat.
3. Demospongiae = tipe saluran leukonoid -> Serabut spongin.

COELENTERATA = tubuh lunak, berongga, berbentuk polip & medusa, makanan udang & ikan,
hidup melekat/melayang.

Fungsi = pembentuk ekosistem terumbu karang.

Klasifikasi dan bentuknya :
1. Hydrozoa = dominan polip kemungkinan medusa.
2. Scyphozoa = dominan medusa kemungkinan polip.
3. Anthozoa = polip.

PLATYHELMINTHES = mikroskopis, pipih, endoparasit, hidup di air tawar/laut/lembab.

Siklus hidup =


Klasifikasi :
1. Turbellaria = cacing pipih yang menggunakan bulu getar sebagai alat geraknya.
Contohnya : Planaria.
2. Trematoda = memiliki alat hisap yang dilengkapi dengan kait untuk melekatkan diri
pada inangnya.
Contohnya : Fasciola , Clonorchis, dan Schistosoma.
3. Cestoda = memiliki kulit yang dilapisi kitin sehingga tidak tercemar oleh enzim
di usus inang.
Contohnya : Taenia solium dan T. saginata.

Peranan : sebagai parasit pada manusia, tanaman, dan hewan.

NEMATHELMINTHES = simetribilateral, bulat panjang, berumah dua, reproduksi seksual,
kosmopolitan, ada yang parasit dan ada pula yang hidup bebas.

Siklus hidup :
Telur Masak (tidak sengaja) tertelan manusia -> menetas menjadi Larva di saluran pencernaan -> menembus usus -> peredaran darah -> Jantung Þ Paru-Paru Þ Trakea (tenggorokan) -> tertelan untuk kedua kalinya dengan gejala batuk-batuk -> Usus -> Cacing dewasa.

MORTUM

Posted by neocear On Senin, 16 Mei 2011 0 komentar

Daun = organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau.

Daun Lengkap = Upih daun (vagina), Tangkai daun (petiolus), Helaian daun (lamina)
Contoh = Pohon pisang, pinang, bambu.

Daun Tak Lengkap :
1. Daun bertangkai = Tangkai dan helaian : Nangka, mangga.
2. Daun berupih = Upih dan helaian : Padi, jagung.
3. Daun duduk = Helaian saja : Biduri.
4. Filodia = Tangkai saja : Pohon Acacia.

Tangkai Daun : Bulat dan berongga = tangkai daun papaya.
Pipih dan bersayap = jeruk.
Bersegi.
Setengah lingkaran = tangkai daun pisang.

Bangun Daun (circumscriptio).
1. Bagian terlebar di tengah helaian daun.
a. Bangun bulat (orbicularis) = 1:1 = teratai besar.
b. Bangun perisai (peltatus) = daun jarak.
c. Bangun jorong (ovalis) = 2:1 = daun nangka.
d. Bangun memanjang (oblongus) = 3:1 = daun srikaya.
e. Bangun lanset (lanceolatus) = 5:1 = daun kamboja.

2. Bagian terlebar di bawah tengah helaian daun.
Pangkal daun tak bertoreh :
a. Bangun bulat telur (ovatus) = daun kembang sepatu.
b. Bangun segi tiga (triangularis) = daun bunga pukul empat.
c. Bangun delta (detoideus) = daun air mata pengantin.
d. Bangun belah ketupat (rhomboideus) = daun bangkuwang.
Pangkal daun bertoreh :
a. Bangun jantung (cordatus) = daun waru.
b. Bangun ginjal (reniformis) = daun kakai kuda.
c. Bangun anak panah (sagittatus ) = daun enceng.
d. Bangun tombak (hastatus) = daun wewehan.
e. Bertelinga (auricalatus) = daun tempuyung.

3. Bagian terlebar di atas tengah helaian daun.
a. Bulat telur sungsang (obovatus) = daun sawo kecik.
b. Bangun jantung sungsang (obcordatus) = daun calincing.
c. Bangun pasak (cuneatus) = daun semanggi.
d. Bangun sudip (spathulatus) = daun tapak liman.

4. Tak ada bagian yang terlebar.
a. Bangun garis (linearis) = daun bermacam rumput.
b. Bangun pita (ligulatus) = daun jagung.
c. Bangun pedang (ensiformis) = daun nenas sebrang.
d. Bangun paku (subulatus) = daun Araucaria cunninghamii Ait.
e. Bangun jarum (acerosus) = daun pinus.

Ujung daun (apex folii).
a. Runcing (acutus) = ujung daun oleander.
b. Meruncing (acuminatus) = ujung daun sirsat.
c. Tumpul (obtusus) = ujung daun sawo kecik.
d. Membulat (rotundatus) = ujung daun kaki kuda.
e. Rompang (truncatus) = ujung daun jambu monyet.
f. Terbelah (retusus) = ujung daun sidaguri.
g. Berduri (mucronatus) = ujung daun nenas sebrang.

Pangkal daun (basis folii).
a. Runcing (acutus) = daun bangun memanjang, lanset, belah ketupat.
b. Meruncing (acuminatus) = daun bangun sudip.
c. Tumpul (obtusus) = daun bangun bulat telur.
d. Membulat (rotundatus) = daun bangun bulat.
e. Rompang (truncatus) = daun bangun segi tiga, delta, tombak.
f. Berlekuk (emarginatus) = daun bangun jantung, ginjal.

Tulang daun (nervatio).
1. Menurut besar kecilnya.
a. Ibu tulang (costa).
b. Tulang - tulang cabang (nervus lateralis).
c. Urat - urat daun (vena).

2. Menurut susunan tulang.
a. Daun bertulang menyirip (penninervis) = daun mangga.
b. Daun bertulang menjari (palminervis) = daun papaya, daun jarak.
c. Daun bertulang melengkung (cervinervis) = daun genjer, daun gadung.
d. Daun bertulang sejajar (rectinervis) = rumput, teki - tekian.

Tepi daun (margo folii).
1. Toreh merdeka.
a. Bergerigi (serratus).
b. Bergerigi ganda (biserratus).
c. Bergigi (dentatus).
d. Beringgit (crenatus).
e. Berombak (repandus).

2. Dalamnya toreh.
a. Berlekuk (lobatus).
b. Bercangap (fissus).
c. Berbagi (partitus).

3. Kombinasi toreh dengan susunan tulang daun.
a. Berlekuk menyirip (pinnatilobus) = daun terong.
b. Bercangap menyirip (pinnatifidus) = daun keluwih.
c. Berbagi menyirip (pinnatipartitus) = daun kenikir.
d. Berlekuk menjari (palmatilobus) = daun jarak pagar.
e. Bercangap menjari (palmatifidus) = daun jarak.
f. Berbagi menjari (palmatipartitus) = daun ketela pohon.

Daging daun (intervenium).
a. Tipis seperti selaput (membranaceus) = daun paku selaput.
b. Seperti kertas (papyraceus) = daun pisang.
c. Tipis lunak (herbaceus) = daun slada air.
d. Seperti perkamen (perkamenteus) = daun kelapa.
e. Seperti kulit (coriaceus) = daun nyamplung.
f. Berdaging (carnosus) = daun lidah buaya.

Fisiologi Tumbuhan

Posted by neocear On Rabu, 11 Mei 2011 0 komentar

Fungsi unsur hara bagi tanaman:

1. Karbon (C): Pembangun bahan organik (C02).
2. Oksigen : Pembangun bahan organik dan pernafasan.
3. Hidrogen : Pembangun bahan organik
4. Nitrogen (N) : Pembentukan bagian vegetatif (daun, batang dan akar).
NO3- NH4+ Pembentukan hijau daun (proses fotosintesis).
Membentuk protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik.
Meningkatkan mutu tanaman penghasil daun-daunan.
Meningkatkan perkembangbiakan mikro-organisme di dalam tanah.
5. Fosfor : Merangsang pertumbuhan akar, khususnya tanaman muda.
H2PO4- Memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa.
HPO4– Menaikkan prosentase bunga menjadi buah/biji.
Membantu asimilasi dan pernafasan.
Mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah.
Sebagai bahan mentah untuk pembentukan sejumlah protein tertentu.
6. Kalium (K) : Membantu pembentukan protein dan karbohidrat.
K+ Memperkuat tubuh tanaman.
Mengeraskan kayu tanaman, agar daun/bunga/buah tidak mudah gugur.
Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit.
Meningkatkan mutu dari biji/buah.
7. Kalsium (Ca): Merangsang pembentukan bulu-bulu akar
Ca++ Pembuatan protein atau bagian yang aktif dari tanaman
Memperkeras batang tanaman dan sekaligus merangsang pembentukan biji
Menetralisir asam-asam organik yang dihasilkan pada saat metabolisme
8. Magnesium (Mg) : Magnesium merupakan bagian tanaman dari klorofil
Mg++ Berperan dalam pembentukan buah
9. Belerang (S) : Berperan dalam pembentukan bintil-bintil akar
SO4- Membantu pertumbuhan anakan produktif
Membantu pembentukan butir hijau daun
10. Besi (Fe) : Pembentukan hijau daun (klorofil)
Fe++ Pembentukan karbohidrat, lemak dan protein
11. Mangan (Mn) : Pembentukan protein dan vitamin terutama vitamin C
Mn++ Mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua
Berperan sebagai aktifator macam-macam enzim
12. Tembaga (Cu): Pembentukan enzim seperti: Ascorbic acid oxydase, Lacosa
Cu++ Berperan penting dalam pembentukan hijau daun (khlorofil)
13. Seng (Zn) : Mendorong perkembangan pertumbuhan
Zn++ Pembentukan hormon tumbuh (auxin)
Berperan dalam pertumbuhan vegetatif dan pertumbuhan biji/buah
14. Molibdenum (Mo) : Mengikat (fiksasi) N oleh mikroba pada leguminosa
Mo O4- Katalisator dalam mereduksi N
15. Boron (Bo) : Transportasi karbohidrat dalam tubuh tanaman
Bo O3- Meningkatkan mutu tanaman sayuran dan buah-buahan
Pembiakan sel (titik tumbuh pucuk).
Pembentukan tepung sari, bunga dan akar
16. Khlor (Cl) : Memperbaiki dan meninggikan hasil kering dari tanaman.
Cl -

Fotosintesis adalah Pembentukan zat makanan/energi (glukosa) yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri dengan menggunakan zat hara, karbondioksida, dan air serta dibutuhkan bantuan energi cahaya matahari.Organismenya disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi.

Di dalam daun terdapat mesofil (jaringan bunga karang dan jaringan pagar). Pada kedua jaringan ini, terdapat kloroplas yang mengandung pigmen hijau klorofil (pigmen fotosintesis yang berperan penting dalam menyerap energi matahari).

Kloroplas terdapat pada semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau, termasuk batang dan buah yang belum matang. Kloroplas mempunyai bentuk seperti cakram dengan ruang yang disebut stroma. Stroma ini dibungkus oleh dua lapisan membran. Membran stroma ini disebut tilakoid, yang didalamnya terdapat ruang-ruang antar membran yang disebut lokuli. Di dalam stroma juga terdapat lamela-lamela yang bertumpuk-tumpuk membentuk grana (kumpulan granum). Granum sendiri terdiri atas membran tilakoid yang merupakan tempat terjadinya reaksi terang dan ruang tilakoid yang merupakan ruang di antara membran tilakoid. Bila sebuah granum disayat maka akan dijumpai beberapa komponen seperti protein, klorofil a, klorofil b, karetonoid, dan lipid. Secara keseluruhan, stroma berisi protein, enzim, DNA, RNA, gula fosfat, ribosom, vitamin-vitamin, dan juga ion-ion logam seperti mangan (Mn), besi (Fe), maupun perak (Cu).Pigmen fotosintetik terdapat pada membran tilakoid. Sedangkan, pengubahan energi cahaya menjadi energi kimia berlangsung dalam tilakoid dengan produk akhir berupa glukosa yang dibentuk di dalam stroma. Klorofil sendiri sebenarnya hanya merupakan sebagian dari perangkat dalam fotosintesis yang dikenal sebagai fotosistem.

persamaan reaksi yang menghasilkan glukosa :
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2

faktor utama yang menentukan laju fotosintesis[29] :
1. Intensitas cahaya = Laju fotosintesis maksimum ketika banyak cahaya.
2. Konsentrasi karbon dioksida = Semakin banyak CO2 di udara, makin banyak jumlah
bahan yang dapat digunakan tumbuhan untuk melangsungkan fotosintesis.
3. Suhu = Enzim yang bekerja hanya dapat bekerja pada suhu optimal.
4. Kadar air = Kurang air menyebabkan stomata menutup, menghambat penyerapan CO2.
5. Kadar fotosintat = Jika berkurang, laju fotosintesis akan naik dan sebaliknya.
6. Tahap pertumbuhan = Lebih tinggi tumbuhan sedang berkecambah <> tumbuhan dewasa.

Sel tumbuhan = bagian terkecil dari setiap organ tumbuhan. Sel tumbuhan cukup berbeda dengan sel organisme eukariotik lainnya. Fitur-fitur berbeda tersebut meliputi:
1. Vakuola yang besar (dikelilingi membran, disebut tonoplas, yang menjaga turgor
sel dan mengontrol pergerakan molekul di antara sitosol dan getah.
2. Dinding sel yang tersusun atas selulosa dan protein, dalam banyak kasus lignin,
dan disimpan oleh protoplasma di luar membran sel. Ini berbeda dengan dinding sel
fungi, yang dibuat dari kitin, dan prokariotik, yang dibuat dari peptidoglikan.
3. Plasmodesmata, pori-pori penghubung pada dinding sel memungkinkan setiap sel
tumbuhan berkomunikasi dengan sel berdekatan lainnya. Ini berbeda dari jaringan
hifa yang digunakan oleh fungi.
4. Plastida, terutama kloroplas yang mengandung klorofil, pigmen yang memberikan
warna hijau bagi tumbuhan dan memungkinkan terjadinya fotosintesis.
5. Kelompok tumbuhan tidak berflagella (termasuk konifer dan tumbuhan berbuga) juga
tidak memiliki sentriol yang terdapat di sel hewan.

Jaringan epidermis : jaringan paling luar yang membungkus tumbuhan
Jaringan pengangkut : berperan dalam pengangkutan di dalam tubuh tumbuhan
Jaringan tanah : melakukan fotosintesis, penyimpanan makanan, dan penyokong struktur.
o Parenkim : Dinding primer tipis, tidak memiliki dinding sekunder; dapat
berkembang menjadi jaringan tumbuhan yang lebih terspesialisasi.
o Kolenkim : Dinding primer yang tebal, bergabung untuk menyokong bagian tumbuhan
yang sedang tumbuh.
o Sklerenkim : Dinding sekunder tebal, menyokong bagian tumbuhan yang tidak tumbuh.

Akar : bagian pokok di samping batang dan daun bagi tumbuhan.
Auksin : zat hormon tumbuhan.
Endosperma : bagian dari biji tumbuhan berbunga hasil dari pembuahan berganda.
Fitokrom : reseptor cahaya.
Fotorespirasi : respirasi pada tumbuhan yang dibangkitkan oleh penerimaan cahaya yang diterima oleh daun.
Daun : salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang.
Klorofil : kelompok pigmen fotosintesis yang terdapat dalam tumbuhan.
Kromofor : bagian dari pigmen yang paling sensitif terhadap rangsangan cahaya.
Kutikula tumbuhan : lapisan pelindung pada seluruh sistem tajuk.
Kutin : polimer heterogen yang terdiri dari berbagai kombinasi asam lemak (16&18).
Hidroksil : gugus fungsional -OH (sebagai subsituen di sebuah senyawa organik).
Pektin : polimer heterosakarida yang diperoleh dari dinding sel tumbuhan darat.
Lipid : senyawa organik hasil proses dehidrogenasi endotermal rangkaian hidrokarbon.
Membran sel : fitur universal yang dimiliki oleh semua jenis sel berupa lapisan
antarmuka yang disebut membran plasma, yang memisahkan sel dengan
lingkungan di luar sel, untuk melindungi inti sel dan sistem
kelangsungan hidup yang bekerja di dalam sitoplasma.
Plastida : organel pada sel tumbuhan.
Ribosom : organel kecil dan padat dalam sel (tempat sintesis protein).
Lisosom : organel sel berupa kantong terikat membran yang berisi enzim hidrolitik.
Ribonucleic Acid (RNA) : senyawa genetik (menentukan ekspresi genetik).
Vakuola : ruang dalam sel yang berisi cairan.
Kromatin : kompleks dari asam deoksiribonukleat, protein histon dan protein non
histon yang ditemukan pada inti sel eukariota.
Mitokondria : organel tempat berlangsungnya fungsi respirasi sel makhluk hidup.
Deoxyribonucleic acid (DNA) : asam nukleat penyusun berat kering setiap organisme.
Inti sel : organel pengangkut materi genetik pada eukariota.
Retikulum Endoplasma : organel yang terdiri atas sistem membran.
Badan Golgi : organel yang dikaitkan dengan fungsi ekskresi sel.

ppd2

Posted by neocear On Sabtu, 15 Januari 2011 0 komentar

faktor yang mempengaruhi perkembangan :
1. Faktor hereditas :
a. Fisik : Tinggi, gemuk, kurus, pendek dsb
b. Lingkungan : kebudayaan dan keyakinan

fase remaja berkisar dari 13-18 tahun

Teori perkembangan :
1. Kognitif
a.anak dilahirkan cenderung menjadi baik
b.alam dan lingkungan berperan aktif dalam perkembangan anak
c.anak berperan aktif dalam proses perkembangan
d.perkembangan berjalan menurut umur
e.tahapan perkembangan umumnya sama dengan semua anak
2. Belajar
a.anak dilahirkan tanpa kecenderungan tertentu
b.lingkungan berpengaruh besar dalam perkembangan
c.perkembangan selalu kontinue
d.tahapan perkembangan bervariasi
3. Lingkungan
4. Ekologi

Perkembangan peserta didik : pola perkembangan yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut secara kontinue dan bersifat involusi

kecerdasan menurut arthur jensen : kecerdasan itu diwariskan

fmipa

Posted by neocear On Jumat, 14 Januari 2011 0 komentar

The Queen of Science = sebagian besar teori matematika, seperti halnya fisika dan biologi, adalah hipotetis-deduktif (kebenaran suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten)

Imperialisme ialah politik untuk menguasai (dengan paksaan) seluruh dunia untuk kepentingan diri sendiri yang dibentuk sebagai imperiumnya. "Menguasai" disini tidak perlu berarti merebut dengan kekuatan senjata, tetapi dapat dijalankan dengan kekuatan ekonomi, kultur, agama dan ideologi, asal saja dengan paksaan. Imperium disini tidak perlu berarti suatu gabungan dari jajahan-jajahan, tetapi dapat berupa daerah-daerah pengaruh, asal saja untuk kepentingan diri sendiri.

Sebab Imperialisme : Keinginan untuk menjadi jaya, menjadi bangsa yang terbesar di seluruh dunia..Perasaan sesuatu bangsa, bahwa bangsa itu adalah bangsa istimewa di dunia ini..Hasrat untuk menyebarkan agama atau ideologi..Letak suatu negara yang diangap geografis tidak menguntungkan..permasalahan ekonomi

Akibat Imperialisme
1.Akibat politik
1. Terciptanya tanah-tanah jajahan
2. Politik pemerasan
3. Berkorbarnya perang kolonial
4. Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)
5. Timbulnya nasionalisme
1.Akibat Ekonomis
1. Negara imperislis merupakan pusat kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan
2. Industri si imperialis menjadi besar, perniagaan bangsa jajahan lenyap
3. Perdagangan dunia meluas
4. Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)
5. Kapital surplus dan penanamna modal di tanah jajahan
6. Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah jajahan lenyap
2.Akibat sosial
1. Si imperialis hidup mewah sementara yang dijajah serba kekurangan
2. Si imperialis maju, yang dijajah mundur
3. Rasa harga diri lebih pada bangsa penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah
4. Segala hak ada pada si imperialis, orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa
5. Munculnya gerakan Eropa-isasi.


5 aspek sudut pandang IPA :
1.Institusi (kelembagaan)
2.Metode (kegiatan mental maupun manual)
3.Kumpulan pengetahuan
4.Memelihara dan mengembangkan produk
5.Mempengaruhi sikap manusia terhadap alam semesta

Science menurut einstein (b.indo)
Sains dapat membuat keanekaragaman dan berkembang melalui eksperimen secara logis.

Fungsi IPA :
1.pola berfikir
2.Menjelaskan (analitis,logis,sistematis)
3.Meramalkan
4.Menguasai dan mengontrol
5.Pelestarian

Hukum (pernyataan yang mengungkapkan adanya hubungan antara gejala alam yang konsisten)...cara memahaminya: suatu pernyataan,ada hubungan antara fakta, telah diuji kebenarannya,dapat digunakan untuk meramalkan, berlaku pada kondisi terbatas

Teori : seperangkat definisi yang berkaitan dengan sebuah pandangan yang sistematik dari berbagai fenomena dengan mengungkapkan adanya hubungan yang spesifik antara variabel dengan tujuan menjelaskan dan meramalkan fenomena2 tersebut.

Beda hukum teori :suatu kenyataan alam:menjelaskan kenapa bisa terjadi...tidak menjelaskan:membuat orang lebih memahami...bertolak kenyataan:menjelaskan dengan logika deduksi

postulat : anggapan dasar yang tidak dipertanyakan lagi atau di anggap benar

prinsip/asas : pernyataan yang mengandung kebenaran yang bersifat mendasar dan berlaku umum

Metode ilmiah : suatu cara memecahkan suatu ilmiah dengan sistematik
Langkah sederhana :
1.Merumuskan masalah
2.Mengumpulkan data
3.Menyusun hipotesis
4.Menguji hipotesis
5.Menarik kesimpulan
6.Menguji kesimpulan

Holti

Posted by neocear On Selasa, 11 Januari 2011 0 komentar

Pekarangan adalah areal tanah yang biasanya berdekatan dengan sebuah bangunan. Tanah ini dapat diplester, dipakai untuk berkebun, ditanami bunga, atau kadang-kadang memiliki kolam. Pekarangan bisa berada di depan, belakang atau samping sebuah bangunan, tergantung seberapa besar sisa tanah yang tersedia setelah dipakai untuk bangunan utamanya.

2. Fungsi Pekarangan

Fungsi sosial : untuk memberi rasa nyaman bagi lingkungan tempat tinggal, tempat anak-anak bermain-main juga untuk melepaskan lelah serta bersantai ria pada waktu senggang maupun untuk melepaskan binatang kesayangannya.
Fungsi ekonomi : Terra (1948) diungkapkan oleh Danoesastro 1976, serta dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Dinas Perkebunan Rakyat diperoleh hasil bahwa pekarangan mempunyai banyak fungsi (Manfaat pekarangan) yaitu : Sumber Karbohidrat, Menghasilkan bahan setiap hari, Sumber bahan bangunan rumah atau keperluan lain, Penghasil bumbu masak yang diperlukan, Penghasil kayu bakar, Penghasil bahan dasar untuk kerajinan rumah tangga , dan Penghasil Protein hewani.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bentuk, Luas dan Intensitas Pekarangan

Pada dataran rendah berbeda dengan di pegunungan, daerah dengan iklim basah berbeda dengan daerah yang mempunyai iklim kering, serta letak suatu daerah dengan perkotaan, tempat yang jauh dari kota dengan yang dekat dengan kota akan ada perbedaan pengembangannya.

Terra (1953) mengemukakan bahwa penyebaran, luas dan intensitas serta bentuk pekarangan dipengaruhi oleh faktor ethnologis, iklim, tanah dan tergantung pada seberapa besar kepadatan penduduk, serta imbangan dengan pemilikan tanah yang lain.

4. Pengaturan Pekarangan.

Seperti yang telah diuraikan tedahulu bahwa pekarangan dapat memberikan bermacam-macam hasil seperti : Palawija, Buah-buahan, Sayur-sayuran Bunga-bungaan, Rempah-rempah, Obat-obatan, Kayu-kayuan, Bahan kerajinan, Ikan, Pupuk kandang, Hewan ternak, dan Madu tawon/lebah.

Pekarangan sering memberikan kesan pada yang melihatnya sebagai hutan rimba yang produktif (Agroforestry) atau sebagai kebun yang terlantar karena pekarangan tersebut ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman. Pengaturan pekarangan yang kurang baik akan memberikan pandangan yang kurang baik pula. Dengan pengaturan tanaman dalam pekarangan secara baik akan menciptakan keindahan alam lingkungan terbuka di pekarangan. Keindahan pekarangan tidak saja memberi kegembiraan pada pemiliknya tetapi juga memberi kesenangan pada siapa saja yang lewat dan memandangnya.

5. Kemungkinan Pengembangan Pekarangan

Pengembangan pekarangan yang terarah, tidak cukup hanya dengan melakukan perlombaan-perlombaan yang bersifat seremonial belaka seperti lumbung hidup, apotik hidup atau warung hidup yang bersiaft sementara selagi ada kegiatan lomba yang dahulu sering dilakukan untuk sekedar menyenangkan pejabat belaka tetapi tanpa ada pembinaan lebih lanjut. Sebenarnya hal tersebut juga dapat mendorong pengembangan pengusahaan pekarangan asalkan dilakukan dengan perencanaan yang baik dari pejabat yaitu dengan usaha peningkatan pengetahuan pemilik pekarangan, dilakukan pembinaan dan pendidikan yang menyeluruh serta diikuti penyediaan sarana maupun penampungan hasilnya atau paling tidak arahan kemungkinan pemasaran produk yang nantinya akan dihasilkan kalau pekarangan benar-benar telah berkembang nantinya.

II. JENIS KERUSAKAN PADA PRODUK HORTIKULTURA

2.1. Kehilangan Berat dan Kualitas

Secara umum produk hortikultura yang telah dipanen sebelum sampai ke konsumen atau dalam simpanan penyebab kerusakan yang utama adalah terjadinya kehilangan air dari produk tersebut. Kalau kehilangan air dari dalam produk yang telah dipanen jumlahnya relatif masih kecil mungkin tidak akan menyebabkan kerugian atau dapat ditolelir, tetapi apabila kehilangan air tersebut jumlahnya banyak akan menyebabkan hasil panen yang diperoleh menjadi layu dan bahkan dapat menyebabkan produk hortikultura menjadi mengkerut.



2.2. Mikroorganisme

Agar produk hortikultura tidak lekas layu maka dalam penyimpanannya diusahakan kelembaban lingkungan simpannya tinggi, tetapi kondisi kelembaban tinggi dipenyimpanan sering menyebabkan munculnya jamur pada permukaan produk hortikultura yang disimpan. Munculnya jamur pada permukaan produk hortikultura yang disimpan akan menyebabkan kenampakan produknya menjadi kurang menarik atau jelek sehingga akan menurunkan nilai kualitas dari produk tersebut.

Agar produk hortikultura yang disimpan tidak cepat mengalami proses kerusakan oleh mikroorganisme, diantaranya diupayakan dengan:

· Menjaga kebersihan pada seluruh ruang penyimpanan

· Menjaga sirkulasi uara pada ruang

· Mengurangi terjadinya proses pegembunan pada produk yang dikemas

· Mengurangi / menghindari menjalarnya perkembangan spora dari jamur.

· Menggunakan bahan pencegah jamur, misalnya: dengan uap yang sangat panas selama kurang lebih dua (2) menit pada ruang simpan atau kalau sangat terpaksa dipergunakan bahan kimia seperti: Sodium Hypochlorit / trisodium Phosphat, larutan Calsium Hypochlorit.



III. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERUSAKAN PRODUK



3.1. Relatif Humidity (Kelembaban Relatif)

Relatif humidity (RH) ruangan di mana produk hortikultura disimpan akan mempengaruhi kualitas produknya. Apabila RH ruang simpan produk hortikulura terlalu rendah maka akan menyebabkan produk hortikulura yang disimpan akan mengalami kelayuan dan pengkerutan yang lebih cepat. Tetapi sebaliknya apabila RH ruang simpan produk hortikultura terlalu tinggi juga akan mempercepat proses kerusakan produk simpanan, karena akan memacu munculnya jamur-jamur pada produk simpanan. Pada RH mendekati 100 % akan memberikan kondisi yang cukup baik bagi pertumbuhan jamur atau pertumbuhan jamur akan sangat hebat sehingga sampai pada bagian dinding ruang simpan juga bagian atapnyapun akan ditumbuhi jamur.



3.2. Sirkulasi Udara

Pergeseran atau sikulasi udara diruang penyimpanan yang cepat selama proses precooling produk simpanan dimaksudkan untuk menghilangkan panas dari produk hortikultura yang dibawa dari lapang, setelah panas dari lapang tersebut dipindahkan maka selanjutnya kecepatan sirkulasi udaranya dikurangi. Di dalam ruang penyimpanan sirkulasi udara diperlukan dengan tujuan agar panas yang terjadi selama berlangsungnya proses respirasi dari produk dapat diturunkan atau dihilangkan juga dengan maksud untuk menyeragamkan kondisi / suhu ruang simpan dari ujung satu dengan ujung yang lainnya.



3.3. Respirasi

Produk hortikultura yang disimpan dalam bentuk segar baik itu sayur-sayuran ataupun buah-buahan proses yang terjadi dalam produk adalah respirasi. Dalam proses respirasi ini akan terjadi perombakan gula menjadi CO2 dan air (H2O).





IV. USAHA UNTUK MENGURANGI KERUSAKAN PRODUK HORTIKULTURA DALAM SIMPANAN



4.1. Sanitasi

Ruang penyimpanan produk hortikultura perlu dipelihara dalam kondisi yang bersih dan sehat hal ini sangat penting dilakukan untuk menjaga agar produk hortikultura yang disimpan tetap dapat terjaga dalam kondisi segar. Ruang penyimpanan yang dijaga tetap dalam kondisi bersih dan sehat akan memperkecil serangan jamur dan organisme lainnya.

Dalam sanitasi sering dipergunakan senyawa kimiawi yang bersifat racun seperti insektisida, untuk penggunaannya perlu memperhatikan konsep keamanan pangan/HACCP.



4.2. Refrigeration

Tujuan dari refrigerasi dalam ruang penyimpanan produk hortikultura terutama adalah untuk menekan aktivitas enzym respirasi, agar aktivitasnya menjadi serendah mungkin sehingga laju respirasinya sekecil/selambat mungkin produk hortikultura yang disimpan tetap terjaga kesegarannya.



4.3. Pelilinan (Waxing)

Perlakuan dengan menggunakan lilin atau emulsi lilin buatan pada produk hortikultura yang mudah busuk yang disimpan telah banyak dilakukan. Maksud dari pelilinan pada produk yang disimpan ini terutama adalah untuk mengambat sirkulasi udara dan menghambat kelayuan (menjadi layunya produk simpanan), sehingga produk yang disimpan tidak cepat kehilangan berat karena adanya proses transpirasi.



4.4. Irradiasi

Pengendalian proses pembusukan produk hortikultura yang disimpan serta perpanjangan umur simpannya baik itu produk buah-buahan maupun sayur-sayuran segar dapat dilakukan dengan perlakuan penyinaran dengan mempergunakan sinar Gamma.





4.5. Perlakuan Kimiawi dan Fumigasi

Perlakuan dengan menggunakan senyawa kimiawi telah banyak dipergunakan dalam usaha memperpanjang lama penyimpanan produk-produk pertanian termasuk produk hortikultura baik buah-buahan maupun sayur-sayuran, dan dapat dikatakan sebagai cara yang umum dilakukan atau biasa dilakukan. Yang harus diperhatikan dalam pemakaian senyawa kimia adalah penggunaan tetap menjaga keamanan pangan sehingga tidak memberikan dampak yang merugikan bagi keselamatan manusia mengingat produk hortikulura merupakan produk yang dikonsumsi dan sering dokonsumsi dalam bentuk mentah / bukan olahan.



4.6. Pengemasan.

Upaya lain untuk memperpanjang waktu simpan produk hortikultura adalah dengan pewadahan / pengemasan yang baik. Dengan pewadahan ini diharapkan paling tidak dapat mengurangi terjadinya kerusakan karena terjadinya benturan sesama produk selama proses penyimpanan, selain juga dapat mengendalikan kelembaban dari produk sehingga produk dapat tetap segar.

Produk Hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan yang telah dipanen masih merupakan benda hidup, seperti kalau belum dipanen atau masih di pohon. Benda hidup disini dalam pengertian masih mengalami proses-proses yang menunjukkan kehidupanya yaitu proses metablisme. Karena masih terjadi proses metabolisme tersebut maka produk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen akan mengalami prubahan-perubahan yang akan menyebabkan terjadinya perubahan komposisi kimiawinya serta mutu dari roduk tersebut.

Perubahan tersebut disebabkan oleh beberapa hal seperti terjadinya respirasi yang berhubungan dengan pengambilan unsur oksigen dan pengeluaran cabon dioksida, serta penguapan uap air dari dalam produk tersebut, yang petama kita kenal dengan istilah respirai sedangkan yang kedua dikenal sebagai transpirasi.

Kehilangan air dari produk hortikultura kalau masih di pohon tidak masalah karena masih dapat digantikan atau diimbangi oleh laju pengambilan air oleh tanaman. Berbeda dengan produk yang telah dipanen kehilangan air tersebut tidak dapat digantikan, karena produk tidak dapat mengambil air dari lingkungnnya. Demikian juga kehilangan substrat juga tidak dapat digantikan sehinga menyebabkan perubahan kualitas dari produk yang telah dipanen atau dikenal sebagai kemunduran kualitas dari produk, tetapi pada suatu keadaan perubahan tersebut justru meningkatkan kualitas produk tersebut.

Kemunduran kualitas dari suatu produk hortikultura yang telah dipanen biasanya diikuti dengan meningkatnya kepekaan produk tersebut terhadap infeksi mikroorganisme sehingga akan semakin mempercepat kerusakan atau menjadi busuk, sehingga mutu serta nilai jualnya menjadi rendah bahkan tidak bernilai sama sekali.

Pada dasarnya mutu suatu produk hortikultura setelah panen tidak dapat diperbaiki, tetapi yang dapat dilakukan adalah hanya usaha untuk mencegah laju kemundurannya atau mencegah proses kerusakan tersebut berjalan lambat. Berarti bahwa mutu yang baik dari suatu produk hortikultura yang telah dipanen hanya dapat dicapai apabila produk tersebut dipanen pada kondisi tepat mencapai kemasakan fisiologis sesuai dengan yang dibutuhkan oleh penggunanya. Produk yang dipanen sebelum atau kelewat tingkat kemasakannya maka produk tersebut mempunyai nilai atau mutu yang tidak sesuai dengan keinginan pengguna/SNI (Standart Nasional Indonesia).



PERUBAHAN FISIOLOGIS PRODUK HORTIKULTURA SETELAH PANEN



Kalau produk hortikultura masih di pohon maka produk tersebut masih medapatkan pasokan / suplai apa saja yang diperlukan dari dalam tanah seperti air, udara serta unsur hara dan mineral-mineral yang diperlukan untuk sintesis maupun perombak tetapi kalau produk tersebut sudah lepas dengan tanamannya/dipanen maka pasokan tersebut sudah tidak terjadi lagi/tidak berlangsung lagi. Kegiatan sintesis yang utama dalam organ yang masih melekat pada tanaman adalah pada aktifitas proses fotosintesis tetapi kalau sudah lepas proses fotosintesis ini sudah tidak terjadi lagi, tetapi proses metabolisme tetap berlangsung baik sintesis maupun perombakan. Proses metabolisme pada buah-buahan maupun sayur-sayuran yang telah lepas dari pohonnya pada dasarnya adalah transpormasi metabolis pada bahan-bahan organis yang telah ada atau telah dibentuk selama bagian tersebut masih dalam pohon yang bersumber dari aktifitas proses fotosintesis. Selain itu juga terjadi pegurangan kadar air dari dalam produk hortikultura tersebut baik karena proses pengeluaran lewat permukaan produk maupun oleh proses metabolisme oksidatif termasuk proses respirasi dari produk yang tetap terus berlangsung.



RESPIRASI



Laju dari proses respirasi dalam produk hortikultura akan menentukan daya tahan dari produk tersebut baik buah-buahan maupun sayur-sayuran yang telah dipanen, sehingga sering dijumpai ada produk yang tahan disimpan lama setelah dipanen seperti pada biji-bijian, umbi-umbian tetapi banyak pula setelah produk tersebut dipanen tidak tahan lama untuk disimpan, seperti pada produk buah-buahan yang berdaging maupun produk hortikultura yang lunak-lunak seperti sayur-sayuran daun.

Agar proses metabolisme dalam suatu material hidup tersebut dapat belangsung terus maka diperlukan persediaan energi yang cukup atau terus menerus pula, dimana suplai energi tersebut diperoleh dari proses respirasi. Respirasi terjadi pada setiap makhluk hidup termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran yang telah dipanen, yang merupakan proses konversi exothermis dari energi potensial menjadi energi konetis.

Secara umum proses respirasi dalam produk dapat dibedakan menjadi tiga tingkat yaitu: pertama pemecahan polisakarida menjadi gula sederhana; kedua oksidasi gula menjadi asam piruvat; serta yang ketiga adalah transformasi piruvat dan asam-asam organik lainnya menjadi CO2 , air, dan energi yang berlangsung secara aerobik. Masing-masing proses tersebut dapat dilihat kembali pada Fisiologi Tumbuhan apa namanya ? Substrat dalam proses respirasi tidak hanya berasal dari polisakarida dan asam-asam organis tetapi juga dapat dari protein maupun lemak walaupun dari kedua terakhir sebagai sumber energi kurang dominan, kalau kita lihat berbagai interaksi antara substrat dengan hasil-hasil antara respirasi dan antara hasil antara yang satu dengan lainnya.



PENGUKURAN RESPIRASI



Secara umum dapat dikatakan bahwa laju proses respirasi merupakan penanda atau sebagai ciri dari cepat tidaknya perubahan komposisi kimiawi dalam produk, dan hal tersebut behubungan dengan daya simpan produk hortikultura setelah panen.

Laju atau besar kecilnya respirasi yang terjadi dalam produk hortikultura dapat diukur karena seperti kita ketahui bahwa respirasi secara umum terjadi kalau ada oksigen dengan hasil dikeluakannya carbon doiksida dari produk yang mengalami respirasi maka respirasi dapat diketahui dengan mengukur atau menentukan jumlah substrat yang hilang, O2 yang diserap, CO2 yang dikeluarkan, panas yang dihasilkan, serta energi yang ditimbulkannya. Respirasi juga menghasilkan air (H2O) tetapi dalam hal ini tidak diamati dalam prakteknya karena reaksi berlangsung dalam air sebagai medium, dan jumlah air yang dihasilkan reaksi yang sedikit tersebut “seperti setetes dalam air satu ember”. Energi yang dikeluarkan juga tidak ditenukan oleh karena berbagai bentuk energi yang dihasilkan tidak dapat diukur dengan hanya satu alat saja. Proses oksidasi biologis juga diikuti dengan terjadinya kenaikan suhu dan hal ini sebenarnya juga dapat dipergunakan sebagai penanda seberapa besar laju respirasi yang terjadi/bejalan. Tetapi karena antara keduanya tidak ada hubungan stoikiometrik maka perubahan suhu tidak dipergunakan sebagai penanda laju respirasi dalam produk hortikultura. Pengukuran kehilangan substrat, seperti yang terjadi adanya respirasi akan menyebabkan penurunan berat kering dari produk, tetapi ini mungkin sulit untuk dilakukan pengukuran karena adanya variasi dalam perubahan berat kering secara absolut; untuk itu diperlukan analisis kimia secara langsung.

Ternyata laju respirasi dari produk hortikultura yang telah dipanen mempunyai pola yang berbeda-beda dan dari variasi pola laju respirasi ersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk laju respirasi yaitu kelompok yang mempunyai pola laju respirasi yang teratur, dan kelompok lain kebanyakan produk hortikultura yang berdaging memperlihatkan penyimpangan dari pola respirasi yang terdahulu.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU RESPIRASI



Kecepatan respirasi dari suatu produk hortikultura ternyata tidak selalu tetap tetapi bervariasi, dan variasi tersebut dapat dsebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah:



a. Faktor dalam

· Tingkat Perkembangan,

· Susunan Kimiawi Jaringan,

· Besar-kecilnya Komoditas.,

· Kulit Penutup Alamiah / Pelapis Alami.

· Type / Jenis dari Jaringan.



b. Faktor Luar.

Laju respirasi selain dipengaruhi oleh faktor dari dalam juga sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada di luar produk tersebut dimana kedua faktor tesebut saling berineraksi apakah saling mendukung atau sebaliknya. Faktor-faktor dari luar tersebut adalah meliputi:

· Suhu.

· Konsentrasi 02 dan C0 2 .

· Zat Pengatur Pertumbuhan.

Salah satu zat pengatur pertumbuhan yang mempunyai peranan dalam pematangan produk hortikultura adalah Ethylene.

· Kerusakan Produk.